Anda Pengunjung Ke :

hit counters
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

Memaknai Perayaan Isra’ Mi’raj


 Defenisi:

Seperti yang dikutip oleh wikipedia bahwa mereka berpendapat bahwa:
Isra Mikraj (Arab:الإسراء والمعراج‎, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad  Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra Miraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj.
Peristiwa Isra Mikraj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam "diberangkatkan" oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.


Hikmah Isra’ Mi’raj

Pertama: Konteks situasi terjadinya

Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.
Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi'at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan. Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan. Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).

Kedua: Pensucian Hati

Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma'shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?
Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah".
Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.
Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.
ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله.
Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu 'alaa quluubihim".
Di Al Qur'an sendiri, Allah berfirman"  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketiga: Memilih Susu - Menolak Khamar

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci".
Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.
Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Keempat: Imam Shalat Berjama'ah

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.
Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama'ah, dan tidak tanggung-tanggung ma'mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma'mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.
Kempimpinan dalam shalat berjama'ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.
Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur'an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami".
Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama'ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.

Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni'matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni'mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni'matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.
Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj).
Read More “Memaknai Perayaan Isra’ Mi’raj”

Seperti Musim kita Berubah


Menyampaikan kebenaran tak selalu harus terasa langsung hasilnya. Aku bahkan hampir putus asa. Tapi, akhirnya temanku bisa menjemput hidayah itu. Perubahan ternyata hanya soal waktu.
Kota Bogor, tiga tahun yang lalu. Waktu itu hari pertama aku menginjakkan kaki di Kota Hujan. Kebetulan aku diterima sebagai mahasiswa IPB, Fakultas Kehutanan. Beruntung kampus ini menyediakan asrama bagi mahasiswa barunya, dan itu program wajib bagi mahasiswa baru, sehingga aku dan orangtuaku tidak usah pusing-pusing mencari tempat kos.
Aku masih ingat pertama kali masuk asrama. Setelah menyelesaikan administrasi, ditemani orangtuaku, aku mencari nomor kamar yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun itu. Aku ditempatkan di kamar nomor 193 lorong 5. Kabarnya aku akan ditempatkan bareng dengan dua teman baruku, Lia dan Lena namanya. Sambil berjalan menuju kamar aku bertanya-tanya dalam hati, “Wajah teman sekamarku seperti apa? Baik nggak sih? Agamanya apa?” Pokoknya berbagai pertanyaan yang hadir di otakku yang buat aku jadi pusing sendiri.
Di depan pintu kamar, kudengar ada suara orang. Sepertinya sudah ada yang mendahuluiku. Siapa ya? Apakah itu teman sekamarku? Aku kemudian mengucapkan salam dan masuk ke dalam kamar. Agak canggung aku memperkenalkan diri. Oh ternyata dia adalah teman sekamarku namanya Lena, dia nggak sendirian, tapi diantar sama ibu dan pamannya.
Alhamdulillah dia berkerudung, berarti menandakan agamanya Islam. Syukurlah, batinku. Setelah beberapa jam ngobrol, kita jadi semakin dekat. Tapi sayangnya, dia nggak bisa bermalam di asrama. Yah, ga apa-apa, toh aku sudah berjanji akan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Terpaksa malam itu aku harus tidur sendiri.
Beberapa minggu berlalu, akhirnya lengkap sudah penghuni kamar 193 dengan namanya yang triple L (Lesi, Lia dan Lena). Alhamdulillah, semuanya beragama Islam, walaupun Lia tidak pake kerudung. Kami pun semakin akrab dan aku pun mulai mengenal karakter mereka. Lia yang anaknya agak gaul, cuek dengan penampilan dan pakaian jeans serta T-shirt agak ketatnya kalo keluar dan suka musik kerasnya Linkin Park. Lena yang cenderung tertutup, agak manja dan senang dandan. Sedangkan aku, dengan latar belakang pemahaman Islam yang sedikit baru bisa menunaikan kewajiban seorang muslimah yaitu berjilbab dan berkerudung.
Aneh memang jika dibayangkan ketiga orang yang punya ‘keunikan’ masing-masing bisa disatukan dalam satu kamar. Tetapi kita tidak mempersoalkan masalah itu. Walau pun ada beberapa hal yang kami tidak sependapat, apalagi kalo berbicara masalah syariat Islam. Kupikir memang agak susah, apalagi selama ini mereka belum pernah mendengar seperti itu. Kebetulan aku sudah mulai mengkaji Islam lewat mbak yang berasal dari daerah yang sama denganku. Kupikir ini tantangan bagiku, dakwah ke orang yang terdekat denganku, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dulu.
Hampir melupakan teman
Beberapa bulan berlalu, tak terasa sudah hampir setengah tahun. Aku yang semakin asyik dengan kegiatanku sendiri, semakin jarang bersama-sama dengan kedua orang temanku itu. Aku jadi agak jauh, dan itu membuat mereka malah tidak bisa menerima ide yang kubawa, karena selama ini aku memang jarang ngobrol panjang lebar dengan mereka.
Kuakui, itu kesalahan besar. Aku jadi nggak maksimal. Aku merasa bersalah tidak mampu mengajak mereka untuk merasakan apa yang kurasakan saat ini, karena ketika kuajak untuk ikut kegiatan keislaman mereka selalu menolak. Akhirnya, kupikir tidak ada gunanya lagi mengajak mereka atau menyampaikan tentang Islam ke mereka. Toh, nggak ada hasilnya. Aku sudah putus asa, nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku berharap Lena yang pake kerudung bisa kuajak mengkaji Islam, ternyata gagal. Berharap pada Lia yang karakternya “kayak gitu”, aku rasa tidak mungkin! Sejak saat itu, aku tak pernah lagi menceritakan tentang khilafah atau wajibnya seorang perempuan menutup aurat dengan jilbab dan kerudung.
Ada sesuatu yang terjadi dengan teman sekamarku Lena. Akhir-akhir ini dia mulai jarang masuk kuliah, katanya sih ada urusan keluarga. Tapi kok keluarganya nelpon ke ponselku menanyakannya. Sebab kata orang tuanya, ponselnya nggak bisa dihubungi. Aku jadi bertambah bingung, ke mana anak itu. Konsentrasi belajarku jadi agak terganggu dengan masalah ini. ketika Lena datang, Aku mencoba menanyakan masalahnya, tapi karena sifatnya yang tertutup, aku gagal. Aku hanya sempat menasihati dia, bahwa kita harus sungguh-sungguh kuliah, karena ini adalah amanah orangtua kita. Tak banyak orang yang bisa kuliah, kita termasuk orang yang beruntung. Sedih hatiku, ketika akhirnya Lena harus keluar dari IPB. Malam itu ia datang bersama pamannya, membawa semua barangnya. Tak satupun yang tersisa, Aku dan Lia ikut membantu dengan hati yang sedikit kecewa. Namun, lama kelamaan kami sudah mulai melupakan kejadian itu seiring banyaknya tugas-tugas kuliah.
Hidayah buat Lia
Ketika kami dapat kuliah PAI (Pengantar Agama Islam), ada yang namanya mentoring. Ketika mentoring, semua mahasiswi muslimah harus pake kerudung. Lia yang memang nggak biasa pake kerudung menggerutu, sebab dia tuh kalo pake kerudung lama banget dan susah rapinya. Katanya padaku gerah dan kalau makan susah buka mulutnya. Aku hanya tersenyum saat itu dan bilang padanya memang gitu kalau baru pertama, tapi kalau udah biasa nggak kok.
Saat keluar dari asrama pun tiba. Lia yang jurusan kimia itu harus pindah ke kampus IPB yang ada di Baranangsiang, di pusat kota. Cukup jauh dari tempat kos dan kuliahku. Akhirnya kami tidak pernah ketemu, SMS pun jarang.
Sampai suatu ketika aku terkejut mendapat sebuah pesan singkat. Oh, ternyata SMS dari Lia. Aku senang sekali katanya mau datang ke kosku. Lama kutunggu akhirnya datang juga, aku benar-benar kaget dan tak bisa berkata apa-apa ketika melihat Lia dengan kerudung lebar dan baju potongannya. Nyaris sempurna lirihku dalam hati. Lia sudah berubah! Walaupun kutahu ia berbeda kelompok dakwah denganku, tapi kuyakin tujuan perjuangan kita sama.
Lebih mengagetkanku ketika dia minta ditemenin untuk nyari kaset nasyid. Padahal dulu… Ah, Lia aku bangga padamu. Seperti halnya musim, kamu bisa berubah. Tentu, berubah menjadi lebih baik. Kau mampu menjemput hidayah itu. Semoga perubahan ini tidak sesaat. Aku jadi ingat sahabat Nabi, Umar bin Khaththab, yang dengan cahaya Islam membuat ia menjadi sosok pembela Rasul yang ditakuti kaum kafir. Aku jadi semakin yakin, bahwa Islam adalah fitrah. Dengan hidayah Allah, penjahat sekalipun bisa berubah menjadi baik. Semoga engkau tetap istiqamah ukhti. [seperti yang dituturkan Lesi kepada SoDa]

[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Agustus 2006]
Dikutip dari : Gaul Islam
Read More “Seperti Musim kita Berubah”

Sepercik Embun Hidayah


Rasa penasaran dan kecewaku terhadap ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim. Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih menjadi muslim
Dulu aku adalah seorang penganut Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini. Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang biasa kulihat dan itu aku coba untuk memandang agamaku sendiri dari sisi yang agak berbeda dari yang lain, atau mungkin lebih tepatnya dari sisi yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Keluargaku adalah sebuah keluarga yang sangat menekankan kondisi atau lingkungan yang sangat beragama, terutama ibu. Agama yang kuanut juga sebenarnya bukan karena aku memilih, namun karena aku dari kecil sudah diarahkan untuk mengenal satu agama saja. Yaitu Kristen Katolik.
Karena itu aku pada tahap sekolah dasar aku ditempatkan pada sekolah Nasrani. Sampai aku lulus SD aku selalu dicekoki dan hanya biasa menerima pelajaran tentang Kristen Katolik saja. Enam tahun aku harus terbiasa menelan dan terus menerus mengenyam materi yang belum sempat aku bertanya dan belum sempat aku pahami. Selama itu pula aku hanya bisa menjadi seorang yang hanya biasa mendengar dan menghapal tentang apa yang diberi oleh pengajar, dan? aku tidak diperkenankan untuk bertanya tentang agamaku sendiri.
Menurut pengajar sekolahku , bahwa tak ada agama yang lebih baik dari agamaku itu. Aku hanya mulai berfikir: “Apakah benar bahwa tak ada agama yang lebih baik dari ini! Sedangkan aku bertanya tentang agamku sendiri saja tidak boleh?”
Terjawab rasa penasaranku
Ketika aku lulus SD, aku didaftarkan ibuku ditempat yang sama untuk melanjutkan ke jenjang lanjutan tingkat prertamaku. Aku hanya bisa diam dan menurut, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati: “Apakah aku harus menjadi pendengar setia selama tiga tahun lagi?”
Tapi mungkin alam berkehendak lain, aku tidak diterima. Entah harus bersikap bagaimana, ibuku sangat sedih, tapi yang pasti hatiku sangat senang dan gembira. Aku akhirnya didaftarkan di salah satu sekolah umum dan kali ini aku diterima. Tapi aku agak bingung bagaimana aku harus bersikap, karena selama ini aku hanya berkomunikasi dengan teman yang beragama sama denganku. Tapi yang pasti aku bahagia karena aku tidak lagi menjadi pendengar yang tak bisa untuk bertanya.
Ada satu hal yang menurutku sangat ganjil. Mereka teman-temanku yang berbeda agama denganku, terutama yang muslim sama sekali bersikap di luar dugaanku. Sikap mereka sama sekali berbeda dengan apa yang dikatakan oleh pengajar di sekolah dasarku dulu. Mereka tidak bersikap apatis dan sangat menerimaku apa adanya dan seringkali mengajakku dalam berbagai kegiatan. Terutama pada saat pelajaran Agama Islam, memang pertama tama aku keluar dan bermain di lapangan, namun lama kelamaan aku bosan dan akhirnya mengikuti pelajaran itu. Dan lagi-lagi satu hal yang sangat mengejutkan, mereka mengatakan agama mereka, agama Islam “Rahmatan
lil ‘alamin. Ramat bagi seluruh alam”
Semula aku bingung dengan makna kata itu namun lama kelamaan aku mengerti, kerena teman-temanku yang muslim tidak pernah membuat keributan dan lebih sering ceria ataupun bersenda gurau saja dan itu membuat suasana menjadi ceria. Dan yang paling membuatku salut dengan agama yang mereka anut adalah “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku…” dan itulah satu satunya hal yang belum pernah kudengar dari agamaku. Ini merupakan suatu bukti bahwa mereka tak pernah memaksa orang lain untuk masuk agama mereka dan mereka sangat menghargai agama lain. Dan sayangnya agamaku tidak demikian.
Menjadi muslim
Waktu terus bergulir dan seiring dengan itu keinginanku untuk masuk agama Islam semakin kuat, apalagi ayahku kini seorang muslim. Tapi aku belum berani, karena masih menghormati dan memandang ibuku. Dan itu adalah salah satunya penghalangku untuk masuk dalam agama Islam secara kaffah.
Baru pada saat aku kelas 1 SMA aku berani dan bertekad untuk masuk Islam. Kenapa?
Karena aku memandang diriku sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Aku masuk Islam dengan dibantu bimbingan guru pengajar agama Islam.
Selang beberapa waktu ibuku mengetahui keIslamanku, dan aku memandang itu adalah sesuatu hal yang wajar karena aku sudah dewasa. Tapi rupanya tidak bagi ibuku. Ibuku datang ke sekolah dan memarahi kepala sekolahku dan menuduh guru agamaku sudah menghasutku untuk
masuk dalam Islam. Aku disuruh untuk kembali murtad.
Aku merasa masalah ini terlalu berat dan sangat kompleks. Aku menangis. Tapi aku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang sangat Islami dan teman-teman yang mau mengerti aku. Kini akhirnya aku tetap berada dalam keIslamanku, aku mulai belajar mengkaji Islam lebih dalam, ternyata Islam tidak hanya sholat, puasa, ngaji, zakat, dan haji. Tapi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, Islam mengatur semua kehidupan aspek manusia, mulai dari sistem pergaulan, perekonomian, pendidikan, budaya, politik, negara, hingga hal yang tak pernah ada dalam
agamaku yang dulu.
Teman-teman doakan aku agar tetap dalam jalanNya, kuatkan semangat kalian terhadap Islam, terus berjuang hingga hidup mulia di bawah naungan Islam atau mati sebagai syuhada yang mempertahankan agamaNya. Dan aku tak akan melepas Dien suci ini walau apapun yang terjadi nanti karena ini adalah hidayah Allah terbesar bagiku.
Detik jam terus berganti seiring dengan berputarnya sang mentari, tetesan embun pagi seolah sejukkan hatiku dari hitam dan kelamnya duniaku.
“Ahh……” aku mendesah panjang. Dan kini aku coba untuk berani menatap di sekelilingku dan mencoba mengerti mengapa aku ada di sini, untuk apa aku disini, dan akan kemana aku pergi. Kini aku bersyukur memandang sekelilingku, teman yang tak terhitung, lingkungan yang juga menatapku dan menganggapku ada di dunia ini, serta sebuah Dien yang kini tertancap kukuh di sanubariku.
Walaupun kutahu itu belum lama dan mungkin hanya sebatas tunas, tapi bukankah sebesar besarnya pohon dia akan melalui masa di mana ia menjadi tunas. Allah, akhirnya aku bisa menyebut namaMu [seperti yang ditulis Hamed al-Rasyid untuk SoDa]
[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Oktober 2005]
Dikutip dari : Gaul ISlam
Read More “Sepercik Embun Hidayah”

Meneladani Rasul


“Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul, maka ambillah. Sedangkan apa yang dilarangnya, maka hindarilah. Bertakwalah kalian kepada Allah, karena Allah Maha keras siksa-Nya.” (QS. Al Hasyr: 7).

Manusia memang membutuhkan rasul sebagai perantara dalam menerima ajaran-ajaran dari Allah SWT. Dan bersamaan dengan itu pula, sejak lama manusia telah menempatkan Rasulullah SAW. sebagai pembawa risalah terakhir dari Allah SWT. untuk manusia. Setiap saat kita selalu bersholawat kepada nabi sebagai perwujudan dari rasa hormat kepada beliau, dan kita berusaha untuk menjadi orang-orang yang diberi syafaat di hari penghisaban dengan mengikuti anjuran dan larangannya. Karena pada hakikatnya yang dibawa Muhammad adalah wahyu dari Allah SWT. (QS. An Najm: 3 dan 4; QS. Al An’am:50).
Wujud cinta kita kepada Rasulullah selalu kita buktikan dengan mengikuti perbuatan-perbuatannya. Rasul menganjurkan berbuat baik kepada semua orang, dengan segera kita melaksanakannya. Ketika Rasul menyuruh kita sopan santun, jujur, adil, bersikap pemaaf, maka dengan antusias kita menyambut dan melaksanakan perintah itu. Sehingga dalam kadar tertentu kita telah menjadikan Rasulullah sebagai figur yang harus diteladani dalam segala komponen kehidupan. Bahkan Rasulullah adalah ushwatun hasanah atau teladan yang baik.
Namun amat disayangkan, rasa cinta kepada Rasulullah itu sedikit demi sedikit mulai memudar sesuai dengan berkembangnya peradaban. Sangat ironis memang, ternyata generasi muda kita lebih paham dan mengikuti “sabda-sabda” yang mereka anggap sebagai figur “teladan”. Tak bisa menutup mata, bahwa remaja kita mulai gandrung dengan tokoh-tokoh artis yang mereka anggap mampu memberi inspirasi dalam hidupnya. Bahkan dalam tataran tertentu mampu menumbuhkan histeria.
Bukan saja kaum muda yang sudah mematut-matut diri menyamakan dengan idola pujaannya. Namun, tanpa disadari kaum tua pun telah melakukan hal yang sama, meski dalam unsur yang berbeda. Dalam diri kita mulai merayap pemikiran dan perasaan yang bertolak belakang dengan sikap Rasulullah sebagai teladan kita. Betapa naifnya kita mengaku-ngaku mencintai dan meneladani Rasulullah sementara kita sendiri tak pernah mengikuti perilakunya. Cinta kita, cinta palsu belaka. Di satu sisi kita senantiasa bersholawat kepadanya, tapi pada kesempatan yang lain kita malah melakukan perbuatan yang dilarangnya, yang jelas bertentangan dengan perilaku mulianya.
Satu hal yang bisa kita dapati bila kita mencintai dan meneladani Rasulullah dalam segala komponen kehidupan, yang tak akan pernah kita jumpai dalam mencintai dan meneladani selain Rasulullah. Yakni Rasululullah akan memberi “bonus” berupa syafaat kepada kita di hari penghisaban, bila kita mengikuti apa-apa yang diperintahkannya dan menghindari apa yang dilarangnya. Tak perlu menipu diri dengan menganggap nanti akan mendapat syafaat, sementara kita tak pernah meledani perbuatan Rasulullah.
Mulai sekarang, kita wajib menumbuhkan semangat untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dalam jiwa kita. Wujudkan dalam setiap aktivitas kehidupan kita bahwa kita mencintai dan meneladani Rasulullah. Sehingga kita menjadi umat yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya. [O. Solihin]

Dikuti dari : Gaul ISlam
Read More “Meneladani Rasul”

Ada Hikmah Dibalik Musibah


Musibah emang bisa bikin susah. Tapi jangan keterusan bikin hati gundah. Karena ternyata Allah menyiapkan hikmah di baliknya. Tetep don’t worry be happy.

Kalo bisa milih, kagak bakal ada remaja yang sudi menerima bencana. Mana ada dong orang yang mau rumahnya diacak-acak gelombang tsunami, mobilnya digulung tornado, atau orang-orang terkasihnya ditelan gempa tektonik. Kagak bakal ada yang mau, bro!
Manusia itu tipikalnya emang seneng banget dengan yang namanya happyness. Pengennya seneng en bahagia selalu. Jadi mahluk yang namanya musibah kagak didemenin ama banyak orang. Termasuk oleh remaja.
Tapi gimana bisa kita milih? Lha wong tahu-tahu gelombang tsunami udah ada di depan mata. Atau gimana bisa nyelametin rumah kita kalau dalam sekejap mata tanah udah belah karena hentakan gempa tektonik. Hidup itu terkadang emang nggak bisa memilih.
Ujian hidup, Bro!
Kalo kita pikir-pikir, ternyata hidup ini emang ada siklusnya; ada siang ada malam, ada mentari ada simpati eh rembulan maksudnya, dan ada tawa ada duka. Allah Swt. nggak hanya memberikan kesenangan hidup buat umat manusia, tapi juga ngasih sesuatu yang bisa bikin manusia terhenyak lalu bercucuran air mata duka.
Guys, itu semua kata orang-orang alim dan soleh adalah sunnatullah. Sesuatu yang emang udah ditakdirkan oleh Allah sebagai bagian kehidupan yang udah pasti menimpa manusia. Misalnya, ada kelahiran ada juga kematian. Ketika ada bayi yang lahir, orangtuanya kan pasti gembira bin sumringah. Tapi ketika orang yang dikasihi meninggal, pastinya bersedih. Dan ternyata itu terjadi setiap saat dalam kehidupan kita. Nggak ada orang yang bisa menolak kelahiran dan kematian. Semua udah ditakdirkan oleh Allah Swt. FirmanNya: “Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.”(QS Maryam [19]: 35)
Tapi apa iya Allah tega melihat mahlukNya menderita? Pasti tidak, tapi Allah memang selalu ngasih yang namanya ujian hidup buat manusia yang beriman. Kalo ada manusia yang beriman, maka Allah pengen tahu seperti apa sih keimanannya; beneran atau palsu? Tinggi atau rendah? Allah Swt. berfirman: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS al-’Ankabuut [29]: 2)
Ujian yang berupa musibah itu macam-macam bentuknya; mulai dari yang kecil sampe yang gede. Mulai hati yang resah, badan yang cape en pegel-pegel, sampai musibah besar seperti yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah. Termasuk serangan si biadab Israel ke Palestina dan Libanon adalah ujian dari Allah untuk umatNya. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan hati, bahkan gangguan yang berupa duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosa.” (HR Bukhari, Muslim)
Tapi gimana dong, kan nggak semua orang tahan menghadapi ujian atawa musibah? Jangan khawatir, guys. Semua ujian itu ternyata udah diatur oleh Allah agar sesuai dengan kekuatan iman masing-masing. Allah menjelaskan dalam ayatNya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS al-Baqarah [2]: 286)

Nabi saw. bersabda: “Ujian yang paling berat adalah bagi para nabi, kemudian berikutnya dan berikutnya, seseorang diuji (oleh Allah) sesuai kadar agamanya. Maka tidaklah musibah menimpa seseorang sehingga ia berjalan di atas bumi dan tidak ada dosa padanya.” (HR Bukhari)



Pelajaran empati
Orang-orang yang soleh juga mengatakan kalau hal seperti itu adalah cara cerdas dari Allah untuk bikin manusia menikmati hidup. Maksudnya, kalo kita nggak pernah ngalamin yang namanya musibah, kita nggak bakal tahu cara bersyukur nikmat. Contohnya nih, kalo kita nggak pernah sakit gigi, kita mungkin suka lupa betapa nikmatnya punya gigi sehat yang bisa ngunyah makanan kesukaan kita.
Selain itu, dengan adanya bencana yang menimpa manusia, kita diajarkan untuk bisa berempati pada penderitaan orang lain. Turut merasakan derita orang lain, karena kita juga pernah mengalami penderitaan yang serupa. Mereka yang hidupnya selalu hedonis, selalu mikirin dan nyari kesenangan ragawi, rada susah diajak untuk berempati. Pasalnya, hidup abis untuk ngedugem en having fun.
Dalam buku Kebun Hikmah, dikisahkan ada seorang wanita salehah yang gemar bersedekah. Tapi kebiasaannya itu justru ditentang oleh keluarganya. Sampai suatu ketika keluarganya memutuskan untuk tidak memberinya nafkah. Tujuannya memberi pelajaran supaya dia menghargai harta dan tidak banyak bersedekah. Akhirnya ia pun jatuh fakir.
Melihat saudaranya menderita, keluarganya menjadi iba. Akhirnya mereka memberinya lagi nafkah berupa shirmah (unta berjumlah sekitar 20-30 ekor). Suatu ketika datang seorang pengemis yang mengiba-iba. Wanita itu langsung saja memberinya seluruh unta yang diberikan keluarganya karena ia pernah merasakan derita sebagai orang fakir. Subhanallah!
Jadi di balik bencana – sekecil apapun itu – Allah ingin memberikan pesan yang indah; mensyukuri nikmat Allah yang ada dan bisa berempati pada penderitaan orang lain.

Orang kafir nggak?
Pernah nggak kepikiran, kenapa justru bencana sering menimpa orang baik-baik dan beriman, sementara orang-orang kafir justru baek-baek aja?
Hmm, wajar deh ada pertanyaan macam itu. Kalo kita liat betapa susahnya perjuangan dakwah Nabi saw., aduh sedih dan gemes. Ternyata dakwah itu berliku dan penuh kerikil tajam. Sering banget Nabi saw. dan para sahabat mendapatkan intimidasi dan siksaan fisik dari orang-orang kafir. Bahkan sewaktu ke Thaif, beliau mendapatkan serangan batu dari penduduknya. En ternyata, Allah Swt. kemudian memberitahu kepada beliau kalau para nabi dan rasul terdahulu juga mengalami nasib serupa. FirmanNya:
 “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS al-An’aam [6]: 34)
Sementara itu, para pemimpin Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Walid bin Mughirah hepi banget menyiksa dan melihat derita kaum muslimin.? Kita juga sering ngeliat banyak orang jahat dan kafir yang hidupnya nampak hepi. Bergelimang harta dan popularitas. Apa kagak salah Allah ngasih itu semua?
Nggak, guys. Sama sekali nggak salah. Di balik pemberian Allah yang nampaknya nikmat, sebetulnya tersembunyi laknat. Allah tuh sengaja memberikan itu semua agar mereka makin terbuai dalam kejahatannya lalu Allah bakal ngebales perbuatan mereka dengan azabNya yang pedih. FirmanNya: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisaa [4]: 115)

So, saudara-saudaraku yang tengah tertimpa musibah, di mana saja, don’t worry be happy. Di balik aneka musibah itu Allah tengah menyiapkan aneka kebaikan dan pahala yang luaaar biasa, jika kita mau bersabar dan tetap berkeyakinan kalo Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

3 Jurus Penghilang Duka
  • Don’t look back! Jangan melulu ngingetin masa lalu, tataplah ke depan. Kita emang pantes bersedih, tapi jauh lebih penting mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Allah sengaja menyelamatkan kita supaya jadi orang yang makin tegar. Inget, banyak orang yang menjadi hero setelah aneka musibah yang menimpanya.
  • Stop crying! Jangan keterusan nangis. Yang udah berlalu dan berpulang padaNya kagak bakal bisa balik lagi. Syukuri apa yang Allah masih berikan pada kita. Bahwa kamu masih survive en juga orang-orang terdekatmu, atau mungkin sebagian harta keluargamu. Nangis terus menambah berat masalah.
  • Think positive! Tetep mikir positif. Alhamdulillah, kamu masih sehat dan selamat, masih banyak orang yang tertimpa musibah lebih parah en mereka masih baik-baik saja. Yakini bahwa ini adalah ujian dari Allah – bukan hinaan apalagi kezhaliman – yang kalo kita bisa melewatinya dengan baik bakal menuai pahala yang besar. [januar]
[pernah dimuat di rubrik "bidik", Majalah SOBAT Muda, edisi September 2006]
Dikutip dari : Gaul Islam
Read More “Ada Hikmah Dibalik Musibah”

Hak Allah dan Hak MAnusia


Suatu hari, Salman menyambangi keluarga Abu Darda. Alangkah terkejutnya dia, tatkala mendapati Ummu Darda dalam keadaan kucel.
“Mengapa engkau begitu kusut, Ummu Darda?” sapa Salman.
“Abu Darda, saudaramu itu, sekarang sudah tidak tertarik lagi pada dunia,” jawab Ummu Darda kesal.
Salam tersenyum. Ia lalu mengajak Abu Darda menginap di rumahnya.
Di rumah Salman, tuan rumah menjamu dan mengajak makan tamunya. Tapi Abu Darda menolak, “Saya sedang puasa (sunnah). Makanlah sendiri, tidak apa-apa,” katanya.
“Tidak, saya tidak akan makan kecuali engkau pun makan,” ucap Salman, yang membuat Abu Darda tak berkutik lagi. Mereka pun makan bersama.
Malamnya, usai bertahajud secukupnya, Salman melihat saudaranya tak henti-henti shalat malam. Ketika Abu Darda menyelesaikan rakaat yang kesekian puluhnya, Salman memperingatkan, “Tidurlah,” katanya sambil membimbing Abu Darda ke pembaringan. Abu Darda menurut. Tapi, setelah Salman keluar dari bilik, Abu Darda bangkit lagi untuk shalat. Salman yang mengintip kelakuan Abu Darda, kembali mengajak saudaranya itu untuk tidur. Bahkan untuk mengawasi Abu Darda, Salman turut berbaring di sisinya. Mereka pun tertidur sampai subuh tiba.
Ketika sarapan, Salman berkata kepada Abu Darda, “Sesungguhnya badanmu punya hak atasmu, dan Rabb-mu pun punya hak atasmu. Tamumu juga punya hak atasmu, demikian juga istrimu punya hak atasmu. Maka berikanlah kepada yang berhak sesuai haknya masing-masing.”

Dikutip dari : Gaul Islam
Read More “Hak Allah dan Hak MAnusia”

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes