Rasa penasaran dan kecewaku terhadap
ajaran agamamu akhirnya terjawab ketika aku mengenal teman-temanku yang muslim.
Pertemuan itu menghantarkan aku menanggalkan agamaku yang lama dan memilih
menjadi muslim
Dulu aku adalah seorang penganut
Nasrani, tepatnya Kristen Katolik. Aku bangga dengan agama yang kusandang ini.
Namun lama kelamaan, aku coba untuk tidak melihat sesuatu dari sisi yang biasa
kulihat dan itu aku coba untuk memandang agamaku sendiri dari sisi yang agak
berbeda dari yang lain, atau mungkin lebih tepatnya dari sisi yang tak pernah
kulihat sebelumnya.
Keluargaku adalah sebuah keluarga
yang sangat menekankan kondisi atau lingkungan yang sangat beragama, terutama
ibu. Agama yang kuanut juga sebenarnya bukan karena aku memilih, namun karena
aku dari kecil sudah diarahkan untuk mengenal satu agama saja. Yaitu Kristen
Katolik.
Karena itu aku pada tahap sekolah dasar
aku ditempatkan pada sekolah Nasrani. Sampai aku lulus SD aku selalu dicekoki
dan hanya biasa menerima pelajaran tentang Kristen Katolik saja. Enam tahun aku
harus terbiasa menelan dan terus menerus mengenyam materi yang belum sempat aku
bertanya dan belum sempat aku pahami. Selama itu pula aku hanya bisa menjadi
seorang yang hanya biasa mendengar dan menghapal tentang apa yang diberi oleh
pengajar, dan? aku tidak diperkenankan untuk bertanya tentang agamaku sendiri.
Menurut pengajar sekolahku , bahwa
tak ada agama yang lebih baik dari agamaku itu. Aku hanya mulai berfikir:
“Apakah benar bahwa tak ada agama yang lebih baik dari ini! Sedangkan aku
bertanya tentang agamku sendiri saja tidak boleh?”
Terjawab rasa penasaranku
Ketika aku lulus SD, aku didaftarkan
ibuku ditempat yang sama untuk melanjutkan ke jenjang lanjutan tingkat
prertamaku. Aku hanya bisa diam dan menurut, dan aku hanya bisa bertanya dalam
hati: “Apakah aku harus menjadi pendengar setia selama tiga tahun lagi?”
Tapi mungkin alam berkehendak lain,
aku tidak diterima. Entah harus bersikap bagaimana, ibuku sangat sedih, tapi
yang pasti hatiku sangat senang dan gembira. Aku akhirnya didaftarkan di salah
satu sekolah umum dan kali ini aku diterima. Tapi aku agak bingung bagaimana
aku harus bersikap, karena selama ini aku hanya berkomunikasi dengan teman yang
beragama sama denganku. Tapi yang pasti aku bahagia karena aku tidak lagi
menjadi pendengar yang tak bisa untuk bertanya.
Ada satu hal yang menurutku sangat
ganjil. Mereka teman-temanku yang berbeda agama denganku, terutama yang muslim
sama sekali bersikap di luar dugaanku. Sikap mereka sama sekali berbeda dengan
apa yang dikatakan oleh pengajar di sekolah dasarku dulu. Mereka tidak bersikap
apatis dan sangat menerimaku apa adanya dan seringkali mengajakku dalam
berbagai kegiatan. Terutama pada saat pelajaran Agama Islam, memang pertama
tama aku keluar dan bermain di lapangan, namun lama kelamaan aku bosan dan
akhirnya mengikuti pelajaran itu. Dan lagi-lagi satu hal yang sangat
mengejutkan, mereka mengatakan agama mereka, agama Islam “Rahmatan
lil ‘alamin. Ramat bagi seluruh
alam”
Semula aku bingung dengan makna kata
itu namun lama kelamaan aku mengerti, kerena teman-temanku yang muslim tidak
pernah membuat keributan dan lebih sering ceria ataupun bersenda gurau saja dan
itu membuat suasana menjadi ceria. Dan yang paling membuatku salut dengan agama
yang mereka anut adalah “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku…” dan itulah satu
satunya hal yang belum pernah kudengar dari agamaku. Ini merupakan suatu bukti
bahwa mereka tak pernah memaksa orang lain untuk masuk agama mereka dan mereka
sangat menghargai agama lain. Dan sayangnya agamaku tidak demikian.
Menjadi muslim
Waktu terus bergulir dan seiring
dengan itu keinginanku untuk masuk agama Islam semakin kuat, apalagi ayahku
kini seorang muslim. Tapi aku belum berani, karena masih menghormati dan
memandang ibuku. Dan itu adalah salah satunya penghalangku untuk masuk dalam
agama Islam secara kaffah.
Baru pada saat aku kelas 1 SMA aku
berani dan bertekad untuk masuk Islam. Kenapa?
Karena aku memandang diriku sudah
cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Aku masuk Islam dengan dibantu
bimbingan guru pengajar agama Islam.
Selang beberapa waktu ibuku
mengetahui keIslamanku, dan aku memandang itu adalah sesuatu hal yang wajar
karena aku sudah dewasa. Tapi rupanya tidak bagi ibuku. Ibuku datang ke sekolah
dan memarahi kepala sekolahku dan menuduh guru agamaku sudah menghasutku untuk
masuk dalam Islam. Aku disuruh untuk
kembali murtad.
Aku merasa masalah ini terlalu berat
dan sangat kompleks. Aku menangis. Tapi aku sadar bahwa aku berada di
lingkungan yang sangat Islami dan teman-teman yang mau mengerti aku. Kini
akhirnya aku tetap berada dalam keIslamanku, aku mulai belajar mengkaji Islam
lebih dalam, ternyata Islam tidak hanya sholat, puasa, ngaji, zakat, dan haji.
Tapi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, Islam mengatur semua kehidupan
aspek manusia, mulai dari sistem pergaulan, perekonomian, pendidikan, budaya,
politik, negara, hingga hal yang tak pernah ada dalam
agamaku yang dulu.
Teman-teman doakan aku agar tetap
dalam jalanNya, kuatkan semangat kalian terhadap Islam, terus berjuang hingga
hidup mulia di bawah naungan Islam atau mati sebagai syuhada yang
mempertahankan agamaNya. Dan aku tak akan melepas Dien suci ini walau apapun
yang terjadi nanti karena ini adalah hidayah Allah terbesar bagiku.
Detik jam terus berganti seiring
dengan berputarnya sang mentari, tetesan embun pagi seolah sejukkan hatiku dari
hitam dan kelamnya duniaku.
“Ahh……” aku mendesah panjang. Dan
kini aku coba untuk berani menatap di sekelilingku dan mencoba mengerti mengapa
aku ada di sini, untuk apa aku disini, dan akan kemana aku pergi. Kini aku
bersyukur memandang sekelilingku, teman yang tak terhitung, lingkungan yang
juga menatapku dan menganggapku ada di dunia ini, serta sebuah Dien yang kini
tertancap kukuh di sanubariku.
Walaupun kutahu itu belum lama dan
mungkin hanya sebatas tunas, tapi bukankah sebesar besarnya pohon dia akan
melalui masa di mana ia menjadi tunas. Allah, akhirnya aku bisa menyebut namaMu
[seperti yang ditulis Hamed al-Rasyid untuk SoDa]
[pernah
dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Oktober 2005]
Dikutip dari : Gaul ISlam






Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Harap Berkomentar secara Arif Nan Bijaksana.
Trim's . . . !!!