Anda Pengunjung Ke :

hit counters

Senin, 18 Juni 2012

Keutamaan Sholat Berjamaah


• Berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)


• Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido’akan oleh para malaikat. Rasulullah SAW bersabda: “Shalat seseorang dengan berjama’ah itu melebihi shalatnya di rumah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila seseorang berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan shalat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada ditempat shalat selagi belum berhadats, mereka memohon: “Ya Allah limpahkanlah keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat untuknya.’ Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat semenjak menantikan tiba waktu shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).
• Terbebas dari pengaruh/penguasaan setan. Rasulullah SAW bersabda: “Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau lembah yang tidak diadakan di sana shalat berjama’ah, melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh setan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan shalat berjama’ah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang terpencil dari kawanannya.” (HR. Abu Daud dengan isnad hasan dari Abu Darda’ RA).
• Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda: “Berikanlah khabar gembira orang-orang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Hakim).
• Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang shalat Isya dengan berjama’ah maka seakan-akan ia mengerjakan shalat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh berjama’ah maka seolah-olah ia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR. Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).
• Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Rasulullah SAW terbiasa menghadap ke ma’mum begitu selesai shalat dan menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam shalat berjama’ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar berbicara setelah selesai shalat sebelum pulang kerumah. Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: “Rasulullah SAW baru berdiri meninggalkan tempat shalatnya diwaktu shubuh ketika matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa bersama dan Nabi SAW pun ikut tersenyum.” (HR. Muslim).
• Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma’mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya! Jika ia takbir maka takbirlah kalian, jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian, jika ia mengucapkan ‘sami’alLaahu liman hamidah’ katakanlah ‘Allahumma rabbana lakal Hamdu’, Jika ia sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia shalat sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk pula!” (HR. Bukhori dan Muslim, shahih).
Dari Barra’ bin Azib berkata: “Kami shalat bersama Nabi SAW. Maka diwaktu beliau membaca ‘sami’alLaahu liman hamidah’ tidak seorang pun dari kami yang berani membungkukkan punggungnya sebelum Nabi SAW meletakkan dahinya ke lantai. (Jama’ah)
• Merupakan pantulan kebaikan dan ketaqwaan. Allah SWT berfiman: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat.” (QS. 9:18).
Dikutip dari : berjamaah.com
Read More “Keutamaan Sholat Berjamaah”

Nyaris Kugadaikan Aqidahku


Aku dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Jangankan sholat, kecintaanku kepada Rasulullah saja, tak pernah terlintas. Sejak TK hingga SMP, aku belajar di sekolah non Islam. Alasan orangtuaku, karena sekolah ini paling bagus model pendidikannya. Memang cukup bagus, tapi ternyata kami yang muslim pun diwajibkan mengikuti program agama mereka.

Anak-anak muslim seusiaku mungkin sudah mengenal nama-nama Nabi, nama-nama Sahabat Rasul, sholat itu wajib, amar ma’ruf nahi munkar kudu dilaksanakan. Tapi tidak denganku, untuk mengenal angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab saja aku tidak tahu.
Aku lebih terbiasa dengan doa-doa yang mereka pakai ketika memulai pelajaran dan pulang sekolah. Aku juga lebih terbiasa dengan lagu-lagu kerohanian yang diajarkan guru agama Kristen. Penjiwaanku terhadap lagu-lagu kerohanian mereka, lebih kental dibandingkan penjiwaanku ketika membaca al-Quran. Itupun baru kupelajari setelah kedua orang tuaku menyediakan pengajar dari luar.
Di antara keluargaku hanya aku yang bisa untuk mentadarussi al-Quran. Ayah, Ibu, dan kelima saudara kandungku tidak bisa diharapkan. Terlebih lagi dalam urusan sholat dan puasa. Akupun termasuk orang yang lalai dalam menjalankan sholat. Kalau ada sesuatu yang kuinginkan baru aku sholat. Tetapi setelah keinginanku sudah tercapai aku kembali enggan untuk melaksanakannya.

Wajib ke gereja

Kami juga harus mengikuti aturan sekolah. Tak peduli agama mereka apa. Mereka diwajibkan mempraktekkan ajaran agama Nasrani. Misalnya saja, ketika para murid sedang menghadapi ujian EBTA, Pra EBTA dan EBTANAS, saat itu juga para murid diwajibkan berdoa. Pelaksanaannya harus dilakukan bersama-sama ke gereja. Harapannya tentu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Sanksi bagi yang tidak melaksanakan harus berlari mengelilingi lapangan bola volley sebanyak 10 kali. Bagiku sih nggak masalah untuk lari sebanyak itu karena semua orang tahu kalau aku bisa untuk melakukannya. Jangankan di dalam sekolah, di luar sekolah pun aku pernah mengalahkan semua teman seangkatanku, yang tentunya jarak di luar sekolah lebih panjang dibanding di dalam sekolah. Tapi yang tak kumengerti mengapa akhirnya aku ikut juga untuk berdoa bersama ke gereja.
Kulangkahkan kakiku ke jalan lorong menuju gereja, sementara itu perasaanku tidak menentu seperti ada yang ingin mengatakan sesuatu kepadaku tentang kehadiranku di gereja. Entahlah aku merasa bimbang untuk mengambil sikap. Sesampainnya di depan pintu gereja, aku mengamati gerak-gerik setiap orang yang masuk ke gereja. Gerakan tangan itu tidaklah aneh bagiku, gerakan tangan membentuk tanda salib. Dimulai dari sentuhan ke dahi kemudian ke dada, dilanjutkan kepundak kiri dan berakhir ke pundak kanan. Itu dilakukan setelah tangan mereka dicelupkan kedalam air suci yang sudah disediakan di sebelah kanan pintu gereja.
Di dalam sana sudah tersedia kursi dan meja yang memanjang tapi kursi itu bukan untuk diduduki tapi dipergunakan untuk menyanggah lutut. Meja itu dipakai utnuk meletakkan tangan yang kemudian dikepalkan. Kepala menunduk, kemudian dilanjutkkan dengan gerakan tangan membentuk salib lagi. Gerah, risih yang kurasakan saat itu. Di sini tempat ibadah mereka bukan tempatku, gumamku. Ya Allah bagaimana nasib teman-temanku yang seagama denganku?
Aku tak pernah berpikir apakah akidahku akan terkikis atau tidak. Mungkin ini semua dikarenakan aku tumbuh dalam lingkungan yang tak islami. Peringatan hari besar agama mereka selalu kurayakan bersama. Telur ayam yang sudah direbus juga turut menyertai maraknya hari paskah. Semua murid ambil bagian dalam menghiasi telur-telur itu.
Acara tukar kado antar lawan jenis juga ikut memeriahkan hari paskah. Begitu juga yang kulakukan setiap hari Natal tiba. Tanpa pernah tahu agamaku melarangnya atau sebaliknya. Itu pula yang kemudian membuatku hadir dalam program pembenahan diri yang diadakan sekolah. Acara Ret Ret namanya. Semacam acara sanlat dalam Islam.
Acaranya dijadwal hanya seminggu. Semua materi dikemas sesuai dengan misi mereka. Mulai dari isi materi, diskusi kelompok dan bentuk permainan. Tak ketinggalan doa-doa merekapun turut menyertai pula. Setiap kali aku berada di tempat ibadah mereka, mendengarkan suguhan ceramah atau mendengarkan lagu kerohanian mereka, hatiku selalu berontak, jiwaku gamang. Saat itu yang ada dalam benakku, aku adalah orang Islam kenapa aku harus berada di sini?

Menjemput Hidayah

Di kota hujan, pertama kukenal Islam yang sesungguhnya. Di Kota Bogor ini memberikan warna tersendiri bagi kehidupanku. Di sinilah? aku memulai segalanya saat aku sekolah di sebuah SMU. Tak pernah terlintas dalam benak, kalau akhirnya aku menjadi seorang muslimah sejati.
Awalnya aku ikut-ikutan mentoring yang diselenggarakan kakak kelas, daripada bengong dan nggak ada kerjaan, pikirku. Namun langkah yang kuambil ternyata membawakan hasil yang tidak pernah terpikir olehku. Sholat lima waktu tak pernah kutinggalkan, juga tadarus al-Quran. Dulu aku jarang melakukannya. Bahkan kerudung dan jilbab yang dulunya aku anggap sebagai pakaian karung yang merusak penampilan, sekarang menghiasi hari-hariku. Kini Belajar, ngaji dan dakwah mengisi kesibukanku. Kekosongan jiwaku terisi dengan kedamaian dan ketenangan.
Kepada saudara-saudaraku, terjerumus ke dalam jurang bukanlah keinginan setiap manusia. Begitu juga dengan aku dalam kisahku ini. Bagi saudara-saudaraku yang pernah mengalami perjalanan hidup sepertiku, cobalah untuk sadar dari sekarang. Berkat hidayah Allah yang lebih dulu menyapaku, aku berubah menjadi muslimah sejati. Berusahalah lebih keras agar hidayah Allah segera menghampirimu.
Kepada para orang tua yang menyayangi anak-anaknya, menyekolahkan anak bermodalkan disiplin yang tinggi dengan fasilitas sekolah yang memadai, tapi akidah terbengkalai, apakah itu rasa sayang orang tua terhadap anak-anaknya atau sebuah kehancuran yang diharapkan? [seperti yang diceritakan Afrasana kepada Solihin]
[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda, edisi Januari 2005]
Dikutip dari : Gaul Islam
Read More “Nyaris Kugadaikan Aqidahku”

Demi Jilbab Aku Rela Drop Out


Tidak mudah menjadi muslimah yang istiqamah di zaman ini. Aku yang ingin berjilbab mendapat banyak hambatan dan tentangan. Tapi, apapun insyaAlllah akan kuhadapi walau harus drop out dari bangku sekolah.

Berjilbab bukannya tanpa halangan, termasuk dari orang tua. Cukup sering aku ribut-ribut kecil dengan keluargaku soal jilbab ini. Dibilang sulit cari jodoh, sulit cari kerja, kayak ibu-ibu, kayak wanita hamil. Belum lagi kalau pergi ke warung, pasti aku harus berjilbab dulu, pake kaos kaki. Ini dikomentari ribet, tidak praktis, makan waktu. Tapi alhamdulillah, seiring perjalanan waktu, dan juga usaha gigih dari aku dan kakak-kakakku memahamkan soal kewajiban jilbab akhirnya mereka bisa menerima.
Begitu menginjak bangku SMU aku mengajak kawan-kawan di pengajian sekolah untuk berkerudung dan berjilbab. Untuk itu kami mengumpulkan uang untuk membeli bahan seragam jilbab. Ketika naik di kelas II akhirnya kami semua berjilbab. Caranya bahan seragam kemeja putih itu kami sambung dengan rok tapi tetap kami tutupi sehingga keliatan dari luar seperti tidak berjilbab.
Semangatku dan teman-teman untuk berjilbab ini begitu kuat. Sampai-sampai di pelajaran olah raga kami ngotot berjilbab, nggak mau memakai pakaian olah raga dari sekolah. Awalnya guru olah raga melarang, teman-teman juga memandang aneh. “Olah raga kok pake jilbab,” pikir mereka. Karena lobi yang kami lakukan akhirnya guru olah raga mempersilakan kami untuk tetap berjilbab. Hanya saja pihak sekolah tetap tidak setuju dengan keinginan kami berjilbab. Sampai akhirnya diambil keputusan oleh pihak sekolah kalau kami tetap diizinkan berjilbab ketika berolah raga, tapi diberi nilai ‘sewajarnya’. Begitu pembagian rapor nilai 4 dan 5 mengisi mata pelajaran olahraga untukku dan kawan-kawan yang berjilbab.

Cobaan Itu Datang

Jilbab yang aku kenakan bersama kawan-kawan akhirnya menular pada adik-adik kelasku yang kami bina dalam pengajian sekolah. Mulanya hal ini tidak dipersoalkan oleh pihak sekolah. Tapi begitu aku naik kelas III masalah itu muncul. Awalnya guru-guru di sekolah menerapkan aturan soal kerapihan seragam sekolah. Kemeja seragam diwajibkan untuk dimasukkan ke dalam rok. Seorang kawan yang kelasnya sedang diinspeksi meminta ijin karena berjilbab. Kontan guru memarahinya. Ia pun dikeluarkan dari kelas. Kejadian itu akhirnya berlanjut ke seluruh kelas. Setiap siswi yang ketahuan berjilbab dikeluarkan.
Kami, siswi kelas III, dipanggil oleh kepala sekolah, diceramahi agar patuh pada aturan sekolah dalam pakaian seragam. Pihak sekolah pun membuat surat panggilan untuk orang tua siswi yang berjilbab. Dalam pertemuan dengan orang tua pihak sekolah tidak saja menceramahi orang tua soal aturan seragam sekolah, tapi juga memberi ultimatum kalau anak-anaknya tetap berjilbab maka mereka tidak diizinkan mengikuti ulangan. Pihak sekolah juga mengopinikan kalau di sekolah sedang berkembang pengajian sesat. Bahkan seorang guru mengatakan bahwa di sekolah ini kita tidak bisa memakai hukum Allah, tapi harus memakai aturan dari pemerintah. Na’udzubillah, padahal guru itu beragama Islam dan mengajarkan mata pelajaran agama Islam. Orang tua juga diminta untuk menyuruh anaknya melepas jilbab atau membuat surat pengunduran diri dari sekolah.
Hasilnya banyak ortu yang memarahi anak-anaknya. Ada kawan yang jilbabnya disobek, ada yang jilbabnya mau dibakar, ada yang hampir digampar, ada yang dilarang ngaji, bahkan ada orang tua yang sampai memohon-mohon pada anaknya agar mau melepas jilbabnya. Sedikit saja ortu yang mendukung anak-anaknya.
Kami tidak menyerah. Perjuangan mulai kami lakukan. Kami mengirimkan surat pembaca ke satu koran daerah. Tujuan kami tidak lain untuk mencari bantuan dan menjelaskan kepada masyarakat kalau berjilbab itu tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Tapi pihak sekolah semakin marah dengan hal itu. Kembali kami dipanggil oleh pihak sekolah, dilarang belajar dan dimarahi. Kami dituding keras kepala, untuk membuka jilbabnya saja tidak mau. Kami juga disebut-sebut sudah mencemarkan nama baik sekolah ke media massa.
Pihak sekolah juga terus-terusan menekan kami. Berkali-kali kami dikeluarkan dari kelas, atau kalaupun boleh mengikuti pelajaran kami dianggap alpa. Meski kami diperbolehkan mengikuti ulangan tapi kami sudah sulit berkonsentrasi karena berbagai tekanan dan intimidasi. Yang membuat hatiku sedih dan tersinggung adalah ketika EBTA praktik mata pelajaran agama dalam cara berwudlu, kami yang berjilbab disuruh membuka kerudung di depan teman-teman ikhwan dan akhwat dengan alasan agar berwudlunya sempurna. Meski kami dan sejumlah teman-teman ikhwan protes tapi tetap saja guru agama kami tidak bergeming. Karena menolak terus akhirnya kami diberi nilai di bawah enam. Karena tekanan dari ortu dan sekolah, beberapa kawan yang kemudian melepas jilbab dan memakai seragam terusan.
Cara sekolah dalam memaksa kami untuk membuka jilbab mulai diperhalus. Mereka mendatangkan sejumlah alumnus sekolah yang kini aktif di satu partai politik Islam nasional dengan tujuan membujuk kami untuk melepas jilbab, dan memakai seragam biasa tanpa disambung. “Soal pakaian jilbab itukan ikhtilaf, dilepas juga tidak berdosa, kok,” kata mereka. Terang saja aku marah dan mendebat mereka. Aku kecewa kok ada aktivis pengajian dan dari partai politik Islam yang berpikiran seperti itu. Tapi mereka seperti tidak malu terus saja membujuk kami untuk melepas jilbab. Mereka juga bergerilya ke rumah-rumah kawan-kawanku, membujuk mereka untuk melepas jilbab.

Pertolongan Itu Dekat

Setiap malam aku berdoa kepada Allah agar Ia memberikan pertolongan kepada kami. Aku sendiri sudah siap seandainya tidak bisa mengikuti EBTANAS dan harus drop out dari bangku sekolah. Mama sudah menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepadaku. Kawan-kawanku juga banyak berdoa setiap malam, bahkan ada yang hampir setiap malam menangis.
Meski begitu kami tidak menyerah begitu saja. Setiap dikeluarkan dari kelas, kami bergerilya ke MUI dan Depag untuk mencari bantuan. Alhamdulillah, mereka cukup merespon. Bahkan ketua MUI sendiri datang ke sekolah dan menyaksikan langsung diskriminasi yang terjadi pada kami. Ia pun menegur pihak sekolah dengan keras.
Lama kelamaan simpati dari guru-guru juga berdatangan. Beberapa guru juga mempersilakan kami untuk tetap mengikuti pelajaran. Mereka yang semula segan untuk memprotes kebijakan sekolah mulai berani angkat suara. Akhirnya sekolah mengalah dan tidak lagi mempermasalahkan jilbab.
hirnya pihak sekolah menerima siswinya yang berjilbab, meski aku tahu itu dilakukan dengan segala keterpaksaan. Tapi setidaknya itu sudah jalan keluar teraman dalam keadaan sekarang ini. Aku berharap agar adik-adik kelasku dan juga muslimah manapun yang ingin berjilbab mendapat kemudahan dan ditolong oleh Allah SWT. Amin. [seperti diceritakan Nurul pada Januar].
[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Mei 2003]
Dikutip dari : Gaul ISlam
Read More “Demi Jilbab Aku Rela Drop Out”

Kuhanyut Dalam Cinta


Cinta yang bersemi dalam hatiku memang membuatku bahagia, tapi kebahagiaan semu. Selebihnya aku menderita karena cinta. Namun entah kenapa aku terus hanyut dalam nuansa biru itu. Sampai akhirnya aku menemukan kebenaran.

Aku merupakan anak bungsu, dibesarkan dalam keluarga yang sedang-sedang saja. Tapi aku masih sempat bersyukur karena kehidupan keluargaku berjalan harmonis. Bapakku seorang imam masjid di kampung tempat aku tinggal. Kakakku seorang pengajar madrasah di sini. Boleh dibilang keluargaku merupakan keluarga yang taat terhadap agama. Itulah mungkin kenapa dalam pergaulan, aku tidak “terlalu” terbawa arus. Cuma seperti kebanyakan keluarga yang mendidik anaknya dengan pendidikan agama “alakadarnya” yang hanya mengandalkan pendidikan agama untuk anaknya dari sekolah dan separo lagi dengan ngambil sana, ngambil sini. Maka aku pun bernasib seperti jutaan anak-anak muslim lainnya. Menjadi muslim yang tidak kaffaah. Yang hanya tahu sholat, zakat, puasa dan haji adalah kewajiban satu-satunya yang harus dijalankan oleh seorang muslim. Tidak terkecuali yang namanya urusan pacaran, yang seharusnya dijauhi dan dicampakan aku termasuk yang mengerjakannya.
Petualangan cintaku bermula ketika SMP. Aku bertemu seorang akhwat satu kampung di sebuah telepon umum. Dia memintaku untuk menelepon seorang temannya yang cowok. Istilahnya dulu itu “minjam suara”. Dari situlah benih-benih cinta yang terlarang mulai disemaikan oleh iblis. Dan gayung pun bersambut. Dia mengajak berkenalan. Dari perkenalan itu, ditambah gharizah na’u-ku yang menuntut pemenuhan dan memang pergaulan nggak bener itu sedang jadi trade mark di kalangan teman-teman yang sekuler, aku pun memulai aktivitas pacaran.
Maka hari demi hari yang aku lalui tidak pernah luput dari aktivitas yang satu ini dengan berbagai “atributnya”. Mulai dari urusan menjemput sang kekasih, ngobrol, berkhalwat, makan bareng, main band, sampai apel jadi bagian kesibukan aku sehari-hari. Malah kadang kegiatan utama terabaikan, seperti sekolah salah satunya. Aku begitu menikmatinya. Kadang dalam pacaran, aku sempat menyerempet hal-hal yang tidak sepatutnya aku lakukan.
Enggak salah memang ‘orang salah’ bilang jatuh cinta itu berjuta rasanya. Itu yang aku rasakan pada awalnya. Siang tidak terasa panas lagi rasanya karena ada dia yang meneduhkan. Malam tidak menjadi gelap karena ada purnama? yang menerangi di sisi sampai aku merasa takut untuk kehilangan dia. Hanya dialah hidupku. Ibaratnya kita akan selalu bersama, matipun bersama.
Semua begitu indahnya. Mataku terbutakan oleh kepalsuannya. Walaupun kadang pertengkaran menyertai,? mulai dari masalah yang sepele, sampai kelas berat (malah sempat mau putus) itu semua dapat diselesaikan dengan sendirinya. Temen-temen sekuler biasanya memberi semangat kalo lagi ada masalah. Mereka mengatakan bahwa hal itu biasa dalam dunia percintaan, sebagai bumbu katanya. Biar lebih ‘garing’.
Sampai? suatu hari Allah menegur atas kesombonganku. Hal yang kutakutkan terjadi. Gadis yang kucintai sakit. Kabar itu aku terima dari teman-teman. Aku tidak menjenguknya karena aku takut pada orang tuanya. Memang selama ini pacaran yang aku lakukan back street. Mengingat orang tuanya masih belum setuju anaknya pacaran dengan alasan masih kecil. Selama? pacar sakit, aku jadi sering gelisah, tiap hari hanya memikirkan dia. Melamun. Sekolah pun terbengkalai, malas. Dari rumah berangkat, padahal tiap hari cuma nongkrong di jalan, tempat kami biasa bertemu. Mengharap dia sembuh dan datang. Atau menunggu kabar dari teman tentangnya.
Sampai penantianku berakhir dengan sebuah berita. Pacarku harus dibawa ke rumah sakit dengan keadaan koma. Dan.. dua hari berselang. Ia dipanggil oleh Penciptanya. Hatiku luruh hancur berkeping-keping, kesedihan yang teramat sangat melanda, shock, terguncang, kecewa, menyalahkan atas kuasa-Nya, itulah yang aku alami setelah menerima kabar terakhir kekasihku itu. Cinta begitu membutakanku hanya untuk sekedar mengambil i’tibar dari kematiannya, sekedar memahami semua enggak ada yang abadi, semua bertanggung jawab atas dirinya masing-masing. Ketika jasadnya disemayamkan aku begitu bodoh menjenguk alam sana, bahwa akupun akan mengalami hal serupa. Perbuatanku akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah pencipta semesta alam.
Dua tahun lamanya aku dilanda stress. Hari-hari kulalui dalam kesendirian, keterpurukan dan dengan angan-angan kosong. Kilas balik ketika aku masih bersamanya, lebih sering menemani. Sekolah menjadi korban, akupun drop out di tengah jalan.
Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama. Sekali lagi, atas dukungan teman-teman yang mengatakan dunia tidak selebar daun kelor, akhirnya aku bangkit lagi. Rasa untuk menyukai lawan jenis muncul lagi. Didukung dengan wajah yang menurut kawan-kawanku tidak jelek bahkan baby face bukan hal yang sulit bagiku untuk mendapatkan pengganti. Karena itulah aku sering gonta-ganti pacar.
Sampai akhirnya Allah berkenan memberikan hidayah-Nya kepadaku, setelah bersinggungan dengan teman-teman pengajian. Waktu itu aku sedang apel di rumah kontrakan pacar baru di suatu malam. Kami hanya berdua dengannya. Rupanya ada teman-teman yang sudah ‘hijrah’ kurang suka dengan perbuatan yang kami lakukan. Karena sampai tengah malam aku masih berada di sana.
Akhirnya temanku memberi teguran. Dia begitu marah. Saking marahnya, dia melempar pintu rumah kontrakan pacarku. Akupun keluar. Dan menanyakan maksud perbuatannya. Dia mengatakan, bahwa perbuatan seperti itu tidak pantas dan haram aku lakukan sebagai seorang muslim. Islam ada aturannya bergaul dengan lawan jenis. Apalagi aku, sebagai anak seorang imam masjid, ustadz, hal itu akan berdampak buruk dalam pandangan masyarakat. Teman-temanku mengatakan alasan dia berbuat seperti itu, yaitu semata-mata karena amar ma’ruf nahyi munkar katanya. Dan lebih karena perasaan sayangnya kepadaku, saudaranya sesama muslim. Dengan perasaan kesal, akhirnya aku pulang. Tetapi sesampainya di rumah, aku coba untuk memikirkan kembali perkataannya.
Alhamdulliah. Selang beberapa minggu, Allah membukakan mata hambanya yang selama ini buta oleh cinta buta. Dituntunnya aku untuk memahami tentang Islam, diberikannya aku kabar tentang indahnya surga tempat balasan bagi orang-orang bertaqwa, Indahnya hidup dalam naungan Islam. Dan hanya Allah-lah yang patut menjadi kekasih sejati kita. Hanya bagi Allah-lah Cinta kita berikan yang utama. Kini.. bersama teman-teman seperjuangan dalam menegakan Islam, aku sedang menanti perjumpaan dengan kekasih hati…. Allah Illahi Rabbi……ya Allah Aku rindu…[Seperti yang diceritakan Ibnu An-Nabhandi pada Mursyid]
[pernah dimuat di Majalah PERMATA, edisi Juli 2003
Dikutip dari : Gaul ISlam
Read More “Kuhanyut Dalam Cinta”

Perihal Shalat Berjamaah


1. Kedudukan shalat dalam Islam

Umar bin Khaththab r.a. menulis surat …. “Sesungguhnya urusanmu yang paling penting disisiku adalah shalat, barangsiapa yang menjaganya maka ia telah menjaga dirinya dan barangsiapa menyia-nyiakan maka ia akan lebih menyia-nyiakan amalan yang lain, tak ada keuntungan sedikitpun dalam Islam bagi seorang yang telah meninggalkan shalat”[1].

Telah diriwayatkan oleh Nabi saw, beliau bersabda “Shalat adalah tiang agama”. Tidakkah engkau tahu sesungguhnya tenda akan roboh bila tiangnya telah roboh, tidak bermanfaat bila hanya dengan tali, tidak pula dengan pasak. Maka demikian itu pula (kedudukan) shalat dalam Islam[2].




Pada waktu itu shalat merupakan syaria’t yang belum dimu’akkadkan, ia disyariatkan ketika di Madinah, dan shalat menjadi amalan tersendiri dalam syari’at Islam.

Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia berkata: Kaum muslimin tatkala di Madinah berkumpul dan hanya memperkirakan waktunya shalat tiba, tidak menggunakan panggilan. Pada suatu hari mereka memperbincangkannya, sebagian kemudian ada yang berkata: “Gunakan saja lonceng seperti halnya orang Nashrani”, sebagian yang lain berkata: “Gunakan saja terompet seperti terompetnya orang Yahudi”. Kemudian Umar berkata: “kenapa tidak kalian suruh saja seorang untuk menyerukan datangnya waktu shalat?”. Kemudian Rasulullah bersabda: “Wahai Bilal berdirilah dan serukan waktu tibanya shalat”[3].




Shalat berjama’ah adalah sebab terangkatnya derajat dan bertambahnya kebaikan, ia melebihi shalat sendirian, shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat. Dari Abdullah bin Umar r.a. Rasulullah saw bersabda: “Shalat yang dilakukan berjama’ah itu lebih utama 27 kali daripada shalat sendirian”[4]. Dan yang lainnya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang shalat berjama’ah pada shaf pertama.” Sabda Nabi.

Ibnu Mas’ud berkata: “Siapa yang ingin bertemu Allah sebagai seorang muslim harus menjaga benar-benar shalat pada waktunya ketika terdengar suara adzan. Maka sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada Nabi saw. beberapa kelakuan hidayah (sunanulhuda) dan menjaga shalat itu termasuk dari sunanulhuda. Andaikata kamu shalat di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu pasti kamu tersesat. Tidak ada balasan bagi orang yang mengambil air wudhu dan menyempurnakannya kemudian menuju masjid melainkan Allah akan menuliskannya kebaikan bagi setiap langkahnya dan derajatnya diangkat serta dosanya terhapus. Telah kita ketahui tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama’ah (dengan sengaja tanpa adanya udzur/ halangan sesuai syari’at) kecuali hanya orang-orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya dan sungguh dahulu ada seseorang (yang sakit) yang dipapah oleh dua orang (untuk berangkat ke masjid) hingga di diberdirikan dibarisan  shaf”[5].

Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah telah mengajarkan kepada kita jalan yang telah mendapat petunjuk, dan jalan yang ditunjuki adalah shalat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan”[6].

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Seandainya manusia mengetahui keutamaan memenuhi panggilan adzan dan shaf yang pertama, kemudian ia tak mendapatkannya kecuali harus dengan mengundinya, tentu akan dilakukannya dan seandainya mereka tahu keutamaan shalat dhuhur tentu mereka akan berlomba untuk mendapatkannya, dan seandainya mereka tahu keutamaan shalat isya’ dan shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya meski harus dengan merangkak”[7].

Ayat mulia ini merupakan nash tentang kewajiban shalat berjamaah. Dan dalam surat An-Nisa' Allah berfirman yang artinya :
"Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serokaat), maka hendaklah mereka dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata."  (An Nisa' 102)

Pada ayat diatas Allah mewajibkan shalat berjamaah bagi kaum muslimin dalam keadaan perang. Bagaimana bila dalam keadaan damai?!. Telah disebutkan diatas bahwa "..dan hendaklah datang segolongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah bersamamu.". Ini adalah dalil bahwa shalat berjamaah adalah fardhu 'ain, bukan fardu kifayah, ataupun sunnah. Jika hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjamaah bagi kelompok kedua karena penunaian kelompok pertama. Dan jika hukumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama adalah karena takut.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Ummu Maktum r.a. (yang buta matanya) datang kepada Nabi saw, ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang penuntun yang kurang patuh kepadaku, sedang sepanjang jalan antara rumahku sampai masjid terdapat banyak pepohonan dan semak berduri. Apakah aku diijinkan shalat di rumahku?” Maka Nabi saw. ganti bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan, wahai Abdullah?” Abdullah menjawab, “Saya mendengar, ya Rasulullah!” “Kalau begitu sambutlah panggilan Allah untuk shalat di masjid,” Jawab Nabi saw.[8]

Pada suatu hari seusai mengimami shalat Ashar, Umar bin Khatab r.a., menanyakan kabar sahabat yang tidak hadir berjama’ah. Seorang sahabat melaporkan, “Kabarnya dia sakit, ya Amirul Mukminin!”. Maka Umar r.a. menjenguk ke rumahnya. Setibanya di rumah segera mengetuk pintu. Dari dalam terdengar pertanyaan, “Siapa yang mengetuk pintu?” Dari luar Umar r.a. menjawab, “Umar bin Khatab”. Mengetahui yang datang Amirul Mukminin maka ia segera membuka pintu. Sejurus ketika kedua mata Umar r.a. menatap kedua mata sahabat tersebut maka Umar segera menegur, “Kenapa engkau tidak shalat berjama’ah bersama kami, padahal Allah Ta’ala telah memanggilmu dari atas langit ketujuh Hayya ‘alash shalaah akan tetapi kamu tidak menyahutnya! Sedangkan panggilan Umar sempat membuatmu gelisah dan ketakutan!”[9]

Dari beberapa hadits-hadits diatas jelaslah betapa pentingnya shalat berjama’ah terlebih lagi dilakukan di masjid sebagai pemenuhan panggilan Allah swt.


“Barangsiapa mendengar seruan muadzin dan tak ada udzur yang menghalanginya, sahabat bertanya”Apakah udzur itu?” Rasulullah menjawab: “Rasa takut dan sakit, maka shalat yang ia kerjakan tak diterima”[10]

Abu Darda’ berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Bila ada tiga orang yang tinggal di satu kota atau desa tidak didirikan shalat, mereka akan dikuasai oleh syetan, maka hendaklah engkau senantiasa mengerjakan shalat berjama’ah”[11]

Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang menafik adalah shalat shubuh dan shalat isya’ seandainya mereka tahu apa yang ada pada keduanya tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak, aku ingin sekali supaya shalat ditegakkan dan memerintahkan seorang menjadi imamnya kemudian pergi bersama beberapa orang lelaki dengan membawa kayu baker mendatangi kaum yang tidak mengerjakan shalat berjama’ah, lalu aku bakar rumah mereka dengan api”[12]


Halangan yang menyebabkan ada keringanan untuk meninggalkan shalat berjama’ah banyak sekali antara lain:
a)      Takut dan sakit.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mendengarkan seruan shalat (adzan) dan tak ada udzur (halangan) yang menghalangi (untuk dating shalat berjama’ah), maka tidak akan diterima shalat yang dilakukan darinya”. Mereka (sahabat) bertanya: “Apa yang dimaksud dengan halangan itu, ya Rasullullah?”. Beliau saw. bersabda: “Rasa takut dan sakit”[13].
b)      Takut, baik itu terhadap jiwa, harta atau keluarga.
c)      Hujan.
Dalam hadits shahih dari Ibnu Umar r.a. disebutkan, katanya: “Rasulullah saw. memanggil penyerunya di malam yang turun hujan atau malam yang dingin dengan ucapannya: “Shalatlah kalian di tempat masing-masing”[14]
d)     Memakan (makanan) yang berbau tidak sedap seperti bawang putih dan petai dll.
e)      Ketiduran.
f)       Makanan yang telah dihidangkan serta menahan hajat besar atau ingin buang air. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a.: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: janganlah kamu shalat di hadapan makanan yang telah dihidangkan dan jangan pula shalat bagi orang yang terdesak ingin buang hajat besar atau ingin buang air[15]

6. Kapan seseorang dikatakan memperoleh Shalat Berjama’ah



Sudah dianggap berjama’ah meskipun hanya mendapatkan takbir sebelum imam mengucapkan salam. Ini pendapat Hanafiyah, Syafi’iyah dan riwayat yang mansyur menurut Ahmad dan sebagian besar para shahabat memilih pendapat ini[16].


Landasan pendapat ini adalah riwayat Abu Hurairah, Nabi saw bersabda:
“Apabila shalat telah ditegakkan, janganlah kamu mendatanginya dengan berlari, datangilah ia dengan berjalan dan tenang , apa yang kamu dapatkan, maka shalatlah, dan apa yang kamu luput darinya, maka sempurnakanlah”[17]

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw bersabda:
“Jika kalian mendatangi shalat (jama’ah) sedangkan kami dalam sujud, maka bersujudlah dan jangan menghitungnya (satu rakaat). Barangsiapa yang telah mendapatkan ruku’ berarti telah mendapatkan shalat”[18]




*    Kalau ma’mum itu seorang diri disebelah kanan imam, dan kalau dua orang keatas dibelakang imam.

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Nabi saw. (pernah) berdiri shalat maghrib, kemudian aku datang, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, lalu Nabi melarang aku, dan ia menjadikan aku di sebelah kanannya. Kemudian seorang kawanku dating, lalu Nabi mengatur shaf kami di belakangnya, lalu ia shalat bersama kami, dalam satu pakaian yang diselempangkan dua ujungnya”[19] . Tambahan, bahwa jarak antara imam dan makmum yang disebelah kanannya tidak lebih dari besar telapak kaki dan ada yang selisih hanya sedikit sekali mundurnya makmum terhadap imam.

*    Letak imam persis di tengah shaf dan yang dekat imam ialah orang yang sudah baligh dan pandai.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Letakkan imam itu di tengah dan tutuplah celah-celah (shaf)”[20]

Dan dari Abu Mas’ud Al Ansharie, ia berkata: “Adalah Rasulullah saw. meraba bahu-bahu kami di (waktu hendak) shalat, dan sambil bersabda: “Luruskanlah dan jangan berselisih, karena akibat hatimu akan berselisih. Hendaklah orang-orang yang sudah baligh dan pandai di antara kamu, dekat aku; kemudian orang-orang yang mengiringi mereka; kemudian orang-orang yang mengiringi mereka”[21]

*    Letak anak-anak dan perempuan berpisah dari orang dewasa.

Dari Abdurrahman bin Ghunm, dari Abu Malik Al Asy’arie, dari Rasulullah saw., “Sesungguhnya ia (pernah) mempersamakan antara empat rakaat dalam bacaan dan berdiri; dan menjadikan rakaat pertama adalah yang lebih panjang, agar orang-orang bisa menyusul (mengikuti jama’ah); dan menempatkan orang-orang dewasa di depan anak-anak, dan anak-anak di belakang mereka; dan perempuan di belakang anak-anak”[22].

Perkataan “Dan menempatkan orang-orang dewasa di depan anak-anak dst.” Itu,  menunjukkan didahulukannya shaf orang dewasa daripada anak-anak, dan anak-anak didahulukan daripada perempuan. Ini apabila anak-anak itu dua orang atau lebih. Tetapi apabila anak-anak itu seorang diri, maka ia dimasukkan ke shaf orang dewasa, dan tidak boleh menyendiri di belakang shaf. Dalil yang menunjukkan demikian itu, ialah hadits Anas.

Jadi jelaslah bahwa sebenarnya orang dewasa utamanya adalah Shaf depan, sedang anak-anak adalah setelah shaf orang dewasa (bila tidak sendiri) dan yang terakhir untuk perempuan yang lebih utamanya adalah shaf paling akhir/ belakang.

Pesan untuk orang tua : “Marilah kita bersama-sama menyampaikan ilmu kepada anak-anak kita agar terciptanya kesempurnaan shalat berjamaah dengan memberikan ilmunya kepada mereka mengenai aturan shaft, karena itu adalah cerminan orang-orang yang berilmu untuk melaksanakan sunnah Nabi saw”.


Sebaik-baik imam shalat adalah yang terbaik di antara manusia. Dari Abdullah bin Umar r.a., Nabi saw. bersabda: “Jadikanlah imam olehmu, orang-orang yang terpilih di antara kamu, karena mereka adalah perantara kamu dengan Allah”.

Mengenai urutannya adalah yang lebih mahir membaca al Qur’an, kemudian yang lebih mengerti tentang sunnah, kemudian yang lebih awal masuk Islam, kemudian yang lebih tua umurnya. Ibnu Mas’ud Al Anshari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Orang yang mengimami kamu hendaklah orang yang lebih pandai membaca kitab Al-Qur’an. Maka jika sama di antara mereka, pilihlah yang paling pandai tentang sunnah (hadits). Kalau dari segi sunnah juga sama, maka dahulukan orang yang paling dahulu hijrahnya dan kalau dari segi hijrah juga sama, maka dilihat dari segi siapa yang dewasa usianya. Janganlah seorang kalian menjadi imam bagi orang lain di lingkungan kekuasaannya dan jangan pula duduk di hamparan rumah orang lain kecuali dengan ijinnya”[23].


Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa shalat berjama’ah di mesjid bagi selain wanita itu lebih utama daripada shalat berjama’ah di selain mesjid. Rasulullah saw. bersabda: “Shalat yang paling utama adalah shalat seorang di rumahnya kecuali shalat wajib”[24].

Adapun wanita, maka shalat berjamaahnya lebih utama di rumah berdasarkan hadits: “Jangan kalian melarang istri (wanita) pergi ke mesjid, namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka (untuk shalat)”[25].

10. Penutup

Selebihnya saya kembalikan kepada Allah Swt. segala kebenaran ilmu dan segala kekurangan adalah dari saya pribadi sebagai manusia, semoga bermanfaat dan menjadikan amal kita menjadi amal sholeh yaitu amal yang benar (sesuai ilmu yang bersumberkan kepada Al Qur’an dan As Sunnah) dan ikhlas dalam mengamalkannya, serta berusaha menghidupkan sunnah Nabi Muhammad saw. sebagai rujukan kita dalam beribadah. Insya Allah.

Wallahu ‘alam bishshawab.






[1] Kitab Shalat dan hukum meninggalkannya, Ibnu Qayyim al Jauziyah hal 403-404
[2] Kitabus Shalat, oleh Imam Ahmad bin Hanbal hal 356
[3] Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari 2/77
[4] Shahih Muslim 1/451
[5] HR. Muslim [Fiqih Shalat, 110]
[6] Shahih Muslim 1/453 bab 44 kitab al Masajid wa mawadli’ush shalat no. 654
[7] Kitab Adzan bab 9 shahih Bukhari [Shalat Jama’ah, hal. 33]
[8] [Pesona Akhlak Rasulullah saw., hal.51]
[9] [Pesona Akhlak Rasulullah saw., hal.52]

[10] Abu Dawud hadits no. 551
[11] Jami’ Tirmidzi
[12] Shahih Muslim 1/1, 452 no. 651.
[13] HR. Abu Dawud
[14] HR. Ibnu Majah
[15] Al Hadits [Hukum-hukum seputar sholat, hal. 133]
[16] Hasyim Ibnu Abidin 2/59
[17] Shahih Muslim 1/420 no. 602
[18] Imam Abu Daud dalam sunannya
[19] HR. Ahmad
[20] HR. Abu Daud
[21] HR. Ahmad, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah
[22] HR. Ahmad
[23] HR. Muslim dan Tirmidzi [[Fiqih Shalat, hal. 125]
[24] HR. An Nasaa’I dan Thabrani [Fiqih Shalat, hal. 114]
[25] HR. Ahmad dari Ibnu Umar dan Umu Salamah [Fiqih Shalat, hal. 114]

Read More “Perihal Shalat Berjamaah”

Memaknai Perayaan Isra’ Mi’raj


 Defenisi:

Seperti yang dikutip oleh wikipedia bahwa mereka berpendapat bahwa:
Isra Mikraj (Arab:الإسراء والمعراج‎, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad  Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra Miraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj.
Peristiwa Isra Mikraj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam "diberangkatkan" oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.


Hikmah Isra’ Mi’raj

Pertama: Konteks situasi terjadinya

Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.
Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi'at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan. Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan. Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).

Kedua: Pensucian Hati

Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma'shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?
Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah".
Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.
Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.
ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله.
Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu 'alaa quluubihim".
Di Al Qur'an sendiri, Allah berfirman"  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketiga: Memilih Susu - Menolak Khamar

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci".
Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.
Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Keempat: Imam Shalat Berjama'ah

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.
Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama'ah, dan tidak tanggung-tanggung ma'mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma'mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.
Kempimpinan dalam shalat berjama'ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.
Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur'an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami".
Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama'ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.

Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni'matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni'mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni'matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.
Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj).
Read More “Memaknai Perayaan Isra’ Mi’raj”

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes